Oleh: kerincinet | 24 Desember 2008

Arifin Kritik Dikjar Kerinci, Jangan Lagi Berebut Proyek

 

— In Kerinci-net@yahoogroups.com, hans achong <hans_achong_tt@…> wrote:
>
> Assalamu’alaikum Wr.Wb.
> Wah boleh donk’s ikut nimbrung lagi. Ini berkaitan dengan berita di Koran JE. Kalo menurut saya berita dikoran itu dah BASI (sebab pejabat kerinci sudah lama BASI pakak, BASI lamak, akhirnya pendidikan Kerinci jadi BASILAMAKPEAK,,,,he,,,,he,,,,,). Sori ya agak kasar. Tapi emang Pejabat-pejabat Di kerinci gak ngerti bahasa halus, karena mereka emang bukan makhluk halus) Jadi mainnya sekarang sangat kasar.
> Tapi adahal yang lebih tragis lagi. Yaitu Nasib Guru-guru Honorer yang baru-baru ini diangkat sebagai CPNS. Mereka ada yang sudah mengabdi selama 12an tahun, malahan ada yang lebih. Tapi mereka hanya di akui oleh BKD Kerinci dan juga DIKNASnya kali, telah melaksanakan tugas hanya 3 tahun.
> Dan lebih mengenaskan, jika anggaran yang diajukan ke PEMKAB untuk gaji mereka sesuai dengan tahun yang sebenarnya (alias 12 tahun lebih) tapi yang dibayarkan hanya untuk tiga tahun) Padahal disemua kabupaten dan kota selain di Kerinci dibayarkan sesuai dengan berepa lama para honorer tersebut melaksanakan tugas sesuai dengan bukti yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan.
> Kalo di kerinci,,,,,,???? Auk Ah. GelaaaaaaaaaaaaaP……!!!!
> Jadi memang kalo ada yang meramal kalo Pintu NERAKA sekarang jaraknya dari KERINCI sangat dekat benar adanya. Bisa jadi Jarak Kerinci – Jambi justru lebih jauh dari jarak KERINCI – NERAKA….. .
>
> Denil Zilfia denil.zilfia@… wrote:
> Dikutip dari : http://www.jambiekspres.co.id/
>
>
> Arifin Kritik Dikjar Kerinci, Jangan Lagi Berebut Proyek
>
> Wednesday, 06 February 2008
> SUNGAIPENUH – Kritikan pedas terhadap dunia pendidikan di Kabupaten Kerinci terus dilontarkan oleh berbagai kalangan. Termasuk juga DPRD Kerinci sendiri yang sudah bersedia menganggarkkan alokasi dana yang dinilainya cukup besar bagi sektor ini. Akan tetapi kenyataan yang ada justru pendidikan di Kerinci dinilai masih saja semrawut.
> Apalagi dengan adanya angka buta aksara di Kerinci yang dinilai masih terlalu tinggi dibandingkan daerah lain. Tentu saja merupakan sebuah indikator dalam penilian pendidikan di daerah ini. Oleh karenanya, tahun ini Dewan akan lebih ketat lagi dalam memantau setiap kegiatan yang dilaksanakan dinas instansi terutama Dinas Pendidikan dan Pengajaran (Dikjar) Kerinci.
> H Z Arifin Adnan mengatakan, anggaran sudah disetujui pemerintah untuk sektor pendidikan Kerinci sudah tinggi dibandingkan daerah lain. Dimana anggaran yang disetujui dalam APBD 2008 berjumlah Rp 39 miliar. “Dana ini sudah cukup besar. Saya kira tinggal lagi pengelolaannya yang harus ditingkatkan untuk memajukan mutu pendidikan di Kerinci ini,” terang Wakil Ketua DPRD Kerinci itu.
> Sepengetahuan mantan Ketua DPRD Kerinci periode 1999-2004 itu, justru yang terjadi di Kerinci, para pejabat terutama di Dinas Dikjar saling rebutan proyek. Sehingga pendidikan itu sendiri terkesan diabaikan dan sangat wajar jika mutu pendidikan di Kerinci menjadi terbengkalai. Sekarang ini katanya, tinggal lagi bagaimana pengelolaan pendidikan yang harus ditingkatkan dan dilaksanakan secara profesional. Kalau masih seperti tahun yang telah sudah maka pendidikan di Kerinci ini tidak akan maju-maju.
> Ia menjelaskan, pendidikan di Kerinci bisa dikalahkan oleh kabupaten tetangga seperti Kabupaten Merangin. Dulu, justru orang dari kabupaten tetangga yang belajar di Kerinci . Malah sekarang ini bisa terbalik, justru orang Kerinci yang banyak keluar daerah untuk belajar. “Pejabat hendaknya jangan lagi berebut proyek dan saling tarik-menarik, terutama di Dinas Dikjar. Kalau masih rebutan proyek, wajar saja pendidikan semrawut seperti sekarang ini,” katanya.
> Lagi-lagi Arifin Adnan menjelaskan, kondisi pendidikan di Kerinci yang berada di daerah untuk sekian kalinya tidak dipedulikan lagi. Dimana kondisinya sudah sangat parah. Penyebabnya adalah dari oknum pendidikan itu sendiri yang jarang masuk dan mengajar.
> Arifin Adnan juga mengakui sangat berbeda pendidikan dengan apa yang disampaikan oleh DPD RI yang baru saja melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Kerinci dan meninjau ke beberapa sekolah yang di Kota Sungaipenuh seperti SMAN I, MTsN Model dan MAN I Model.
> Sekolah-sekolah itu sebutnya, tidak perlu dipantau sudah pasti bagus lantaran berada di tengah kota . Kondisi yang nyata dan sebenarnya bisa dirasakan di daerah pelosok. “Kalau di kota tidak ada masalah, semuanya tentu bagus-bagus. Coba di daerah ujung seperti di Batang Merangin, Gunung Raya dan juga di Kayu Aro. Sekolah-sekolah di daerah pinggiran itu rata-rata tidak dikelola dengan baik,” ucapnya.
> Hal senada juga dilontarkan Mat Ramawi anggota DPRD Kerinci dari PPP mengakui anggaran untuk penididikan di Kerinci sudah besar. Hanya saja tinggal bagaimana pengelolaan atau manajemen di Dinas Dikjar yang harus diperbaiki sehingga kualitas pendidikan bisa ditingkatkan. “Kalau anggaran, saya rasa tidak ada masalah dan sudah cukup banyak,” terang Mat Ramawi.
> Sekarang ini bagaimana pengawasan yang bisa mengawasi sekolah-sekolah dan juga kepala dinas yang bisa menata semua bawahannya untuk dapat berkerja lebih baik lagi guna meningkatkan kualitas sektor pendidikan. “Kalau memang tidak sanggup lagi bisa diganti dengan yang lain, ketimbang pendidikan itu hancur,” terangya. (wdo)
>
>


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: