Oleh: kerincinet | 28 Desember 2008

Salah Satu Referensi untuk Pariwisata Kerinci

— In Kerinci-net@yahoogroups.com, “Edward, Syafron” <edward.syafron@…> wrote:
>
> Rekan milis Kerinci-net,
> Dibawah ini saya forwardkan sebuah wawancara dengan pak I Gede Ardika
> (Perancang Visit Indonesia Year 1991). Saya kira bisa dijadikan salah
> satu referensi untuk mengembangkan Pariwisata Kerinci
> edo
>
> I Gede Ardika: Pariwisata Kita Masih Salah Kaprah
> Minggu, 2 Maret 2008 | 01:22 WIB
> Pemerintah Indonesia mencanangkan tahun 2008 sebagai tahun kunjungan
> wisata. Sebutan “kerennya” Visit Indonesia Year 2008. Melalui program
> ini, pemerintah memasang target mendatangkan wisatawan asing 7 juta
> orang atau 1,5 juta lebih banyak dibandingkan turis asing yang
> berkunjung sepanjang tahun 2007.
> Sayangnya, program ini gaungnya belum terdengar- setidaknya hingga Maret
> ini. Bagaimana rancangan tahun kunjungan wisata itu belum diketahui
> secara luas. Bahkan, tanda-tanda bahwa tahun ini adalah tahun kunjungan
> wisata baru terlihat pada baliho besar di Bundaran Hotel Indonesia,
> spanduk-spanduk di beberapa tempat, dan tempelan tulisan pada badan
> pesawat.
> Fasilitas di bandara-bandara tidak dibenahi. Taksi di Bandara
> Soekarno-Hatta tetap saja semrawut. Toilet masih kotor dan baunya
> semriwing-semriwing.
> Sebenarnya, bukan pertama kali Indonesia membuat program tahun kunjungan
> wisata. Tujuh belas tahun lalu, kita pernah membuat Visit Indonesia Year
> 1991 yang dianggap cukup sukses. Salah seorang yang ada di belakang
> program tersebut adalah I Gede Ardika, mantan Menteri Negara Kebudayaan
> dan Pariwisata pada pemerintahan Abdurrahman Wahid dan Megawati
> Soekarnoputri. Ketika persiapan Visit Indonesia Year 1991 dilakukan,
> Ardika masih menjabat sebagai Kepala Bagian Perencanaan Ditjen
> Pariwisata.
> Dalam wawancaranya dengan Kompas, Rabu (27/2) di Bandung, Ardika
> menuturkan pengalamannya ketika menyiapkan Visit Indonesia Year 1991.
> Dia juga memaparkan sejumlah persoalan yang membelit dunia
> kepariwisataan Indonesia.
> Bagaimana prospek Visit Indonesia Year 2008?
> Saya tidak mengikuti secara detail sejak awal bagaimana program itu
> dirancang, apa yang jadi fokus. Saya tidak bisa memberi komentar. Tapi
> sebagai satu langkah itu baik-baik saja.
> Tapi Anda tahu kan tahun 2008 ini dicanangkan sebagai tahun kunjungan
> wisata?
> Ya, saya tahu dari teman-teman saya.
> Anda pernah dimintai pendapat mengenai hal ini oleh pemerintah sekarang?
> Tidak pernah.
> Bagaimana sebaiknya sebuah tahun kunjungan wisata dirancang?
> Saya hanya bisa memberikan pengalaman waktu kami menyiapkan Visit
> Indonesia Year 1991. Pertama-tama, kami menetapkan sasaran internal dan
> eksternal. Sasaran internal adalah mengajak masyarakat luas berperan
> serta dalam kepariwisataan. Jadi, Visit Indonesia Year harus menjadi
> acara bersama, pesta bersama. Ini bukan acara departemen. Sasaran
> ekternal adalah membangun citra Indonesia dengan mengedepankan
> produk-produk pariwisata yang kita fokuskan.
> Pada Visit Indonesia Year 1991, kami membagi kegiatan menjadi tiga,
> yakni core event atau acara puncak, major event yakni acara khusus yang
> diselenggarakan di provinsi-provinsi, dan supporting event yakni acara
> pada tingkat kabupaten. Core event ketika itu adalah Festival Istiqlal.
> Melalui acara itu kita ingin memperkenalkan Indonesia sebagai negara
> Muslim terbesar.
> Anda merasa program itu berhasil?
> Menurut saya ya. Setidaknya gaungnya terdengar di tengah masyarakat.
> Apa saja kesulitan yang Anda hadapi ketika itu?
> Untuk menggaungkan program ini di tingkat internal saja perlu persiapan
> dua tahun, yakni tahun 1989 hingga 1991. Kami harus siapkan logonya dan
> bagaimana itu dipasang. Kami harus mengoordinasi semua pihak yang
> terlibat.
> Berapa jumlah wisatawan asing yang Anda targetkan datang?
> >kern 401m<>h 9737m,0<>w 9737m<Oh, itu tidak perlu. Target seperti itu
> sudah ditetapkan dalam perencanaan lima tahunan. Kalau sasarannya jumlah
> wisatawan, bisa repot. Bagaimana kalau tiba-tiba banyak turis yang
> datang, sementara angkutan tidak ada, infrastruktur tidak ada. Itu jadi
> bumerang. Yang kita ingin hitung adalah seberapa besar kemampuan kita
> ketika itu, bagaimana infrastruktur, transportasi, pengadaan SDM,
> pengadaan fasilitas. Target Visit Indonesia Year itu seharusnya jangka
> panjang dan diikuti dengan year-year yang lain.
> “Striptease”
> Sebelum menjadi menteri, Ardika telah berkecimpung di bidang pariwisata
> sejak tahun 1960-an. Dia juga bergabung dengan berbagai organisasi
> kepariwisataan lokal dan internasional. Dengan pengalaman itu, Ardika
> mencoba meletakkan dasar-dasar kepariwisataan kita, terutama yang
> berkaitan dengan prinsip, etika, dan konsep. Dia mengakui, dasar-dasar
> yang dia letakkan itu belum dijalankan sepenuhnya sehingga
> kepariwisataan Indonesia seolah berjalan tanpa arah.
> Bagaimana seharusnya kepariwisataan itu dikelola?
> Dulu, sebagian orang menyamaratakan kepariwisataan dengan 3S, yakni Sea,
> Sun, Sand. Kemudian, ditambah S keempat, yakni Sex. Pada tahun 1960-an
> dan 1970-an, kita mencoba meluruskan persepsi itu.
> Pada tahun 1980, kita memperlakukan kepariwisataan semata-mata sebagai
> industri dan kegiatan ekonomi. Kemudian kepariwisataan dipersempit lagi
> menjadi alat penghasil devisa. Karena orientasinya semata-mata
> keuntungan ekonomi, investor selalu diberi prioritas. Akhirnya,
> masyarakat hanya jadi penonton. Tahun 1990, warga Bali sudah
> mempertanyakan apakah pariwisata untuk Bali atau Bali untuk pariwisata.
> Apa yang Anda lakukan untuk mengubah itu?
> Kami mencoba meletakkan falsafah dan nilai-nilai dasar kepariwisataan
> kita. Kepariwisataan itu harus berbasis masyarakat, budaya, dan harus
> berkelanjutan. Gagasan ini lahir tahun 1991-1992 ketika saya mengkaji
> ulang rencana induk kepariwisataan Bali.
> (Saat itu, Ardika menjabat Kepala Kantor Wilayah X Bali Departemen
> Pariwisata Pos dan Telekomunikasi).
> Apa saja falsafah dan nilai dasar yang Anda maksud?
> Nilai dasar kepariwisataan itu adalah kehidupan yang berkeseimbangan
> dengan Tuhan, dengan antarsesama manusia, dan dengan lingkungan. Karena
> itu, kepariwisataan harus menjunjung nilai-nilai agama sehingga
> prostitusi, judi, narkotika tidak bisa masuk. Berkaitan dengan hubungan
> antarsesama manusia, kepariwisataan harus bisa membangun persahabatan
> dan perdamaian dunia. Berwisata harus dianggap sebagai hak dasar
> manusia. Dari sini, muncul hak-hak dasar lainnya seperti kepariwisataan
> harus egaliter; equal; dan tidak diskriminatif terhadap suku, agama, dan
> warna kulit. Berkaitan dengan alam, kita harus menjaga lingkungan. Inti
> dari ketiga falsafah itu adalah pengendalian diri dalam mengambil
> manfaat dari kepariwisataan.
> Falsafah sudah ditemukan dan disebarkan. Tapi kenapa wajah
> kepariwisataan kita hingga sekarang belum banyak berubah. Kegiatan
> pariwisata masih merusak lingkungan, hubungan sosial dan budaya
> setempat? Di Bali, misalnya, pembangunan vila dan hotel merusak sistem
> subak.
> Itu efek dari sistem pertumbuhan yang menjadi orientasi kepariwisataan
> kita dulu. Saya selalu mengatakan, seharusnya sistem kepariwisataan
> menerapkan konsep pembangunan yang merata, setelah itu baru kita kejar
> pertumbuhan. Kita sudah punya prinsip dasar, tapi arahnya yang belum
> ditentukan. Kalau hanya untuk mencari devisa, prinsip atau falsafah tadi
> akan kalah. Padahal, jika tanpa arah yang jelas, kegiatan pariwisata
> bisa merusak.
> Selain arah yang jelas, apa lagi yang dibutuhkan?
> Dulu, kami mengubah pendekatan kepariwisataan dari trickle down effect
> jadi direct participation. Kami selalu melibatkan tokoh masyarakat, LSM,
> akademisi, unsur usaha pariwisata, pemda setempat dalam proses ini.
> Pemda jadi bagian pelengkap bukan sebagai komandan dan keputusan diambil
> bersama. Kami dorong pengembangan komunitas dan partisipasi dari atas ke
> bawah. Ketika itu saya baru membuat pilot project. Saya sadar yang
> pertama harus diubah itu kultur dulu, yakni cara pandang dulu.
> Apa pilot project itu ada bekasnya sekarang?
> Banyak. Di Jawa ada pilot project yang berhasil seperti di Desa Tanjung,
> Sleman. Desa itu menjadi leader desa-desa sekitarnya yang menyatakan
> diri sebagai desa pariwisata.
> Anda merasa pelaku usaha tidak peduli dengan prinsip dasar yang Anda
> kembangkan?
> Saya lihat ada sebagian pelaku pariwisata termasuk di Bali yang masih
> berorientasi mencari keuntungan semata.
> Di tingkat praktis, problem kepariwisataan kita apa saja?
> Kita masih bingung menetapkan prioritas dan fokus. Kita terlalu kaya
> sehingga ingin semuanya ditawarkan sekaligus. Dulu, saya menggunakan
> strategi penari striptease. Penari ini kan datang dengan pakaian
> lengkap, lalu sedikit demi sedikit pakaian dia buka. Nah, di setiap
> tahap ini selalu ada excitement, selalu ada hal baru. Kalau kita bisa
> merancang seperti itu, dalam 50 tahun, we still have a new product.
> Problem lainnya?
> Kita lemah dalam mengidentifikasi keunikan apa yang bisa dijadikan
> unggulan. Kita sering menilai apa yang unik menurut kacamata kita, bukan
> tamu kita. Kita lemah dalam memberikan penjelasan yang menarik mengenai
> keunikan yang kita miliki. Kalau kita pintar menjelaskan, seonggok batu
> pun bisa menarik bagi wisatawan.
> Di Finlandia, badan pariwisata membuat survei secara detail mengenai
> segmen-segmen wisatawan yang datang ke sana. Mereka tahu profil-profil
> wisatawan. Mereka dari kalangan mana, punya uang berapa, kebutuhannya
> apa saja. Apa kita melakukan hal yang sama?
> Kita sudah mulai, tapi belum merata dan detail. Kita hanya tahu secara
> global bahwa wisatawan asal Perancis suka budaya, Jerman suka alam.
>
>
> Edo Syafron
> Exploration Geologist
> BP Indonesia


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: